admin

Accounting adalah_ Pengertian, Fungsi dan Tujuan Akuntansi

Accounting adalah: Pengertian, Fungsi dan Tujuan Akuntansi

LaBalance.id – Apa yang dimaksud dengan accounting adalah baik dari perspektif ahli maupun pemakai, dan apa pula fungsi atau manfaatnya dalam dunia bisnis? Bagi beberapa orang, apakah ilmu akuntansi sejatinya hanya berkaitan dengan sekadar sistem hitung-menghitung? Temukan jawabannya di artikel ini! Akuntansi, sebagai suatu disiplin ilmu, banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks kegiatan bisnis. Dengan penerapan dasar-dasar akuntansi, para pengusaha dapat memantau kesehatan keuangan bisnis yang mereka jalankan. Peran akuntansi juga sangat vital dalam ekosistem ekonomi Indonesia. Kebijakan atau keputusan yang diambil oleh pemerintah, perusahaan, atau individu lainnya dapat lebih tepat karena bergantung pada informasi yang diperoleh melalui akuntansi. Meskipun sistem akuntansi memberikan berbagai kemudahan dalam menjalankan kegiatan bisnis, pemahaman akan prinsip dasar akuntansi juga menjadi kunci bagi para pengusaha. Teruslah membaca artikel ini untuk mendalami pengertian, fungsi, dan proses akuntansi yang sesuai bagi dunia bisnis. Accounting / Akuntansi adalah? Pengertian accounting adalah suatu proses yang dimulai dengan mencatat, mengelompokkan, mengolah, menyajikan data, dan mencatat transaksi keuangan. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan oleh ahli di bidangnya sebagai dasar pengambilan keputusan. Praktisi yang ahli dalam bidang ini disebut akuntan. Pengertian Accounting Menurut Beberapa Ahli dan Sumber   Berikut adalah beberapa definisi accounting menurut beberapa ahli: KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Teori dan praktik perakunan, melibatkan tanggung jawab, prinsip, standar, kelaziman, dan seluruh aktivitasnya; terkait dengan akuntan; seni mencatat dan merangkum transaksi keuangan serta penafsiran dampaknya pada suatu entitas ekonomi. Keputusan Menteri Keuangan RI (No. 476 KMK. 01 1991) Proses pengumpulan, pencatatan, analisis, peringkasan, pengklasifikasian, dan pelaporan transaksi keuangan suatu entitas ekonomi. Tujuan accounting adalah menyediakan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan. American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) Seni mencatat, menggolongkan, dan menyajikan informasi keuangan dalam ukuran moneter; mencakup pencatatan, pengklasifikasian, dan penyusunan ringkasan transaksi keuangan dalam laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Financial Accounting Standards Board (FASB) Jasa yang menyediakan informasi kuantitatif untuk pengambilan keputusan ekonomi. ABP Statement No. 4 dalam Smith Skousen ABP Statement No. 4 Aktivitas jasa yang menyediakan informasi kuantitatif untuk pengambilan keputusan ekonomi dan membantu memilih tindakan alternatif yang logis. Warren dkk (2005) Sistem informasi yang memberikan laporan kepada pihak berkepentingan tentang kegiatan ekonomi dan kondisi perusahaan. Suparwoto L (1990) Sistem atau teknik untuk mengukur dan mengelola transaksi keuangan serta memberikan hasilnya dalam bentuk informasi kepada pihak internal dan eksternal perusahaan. Soemarsono S.R (2004) Proses mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi untuk penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas. S. Munawir (2005) Seni mencatat, menggolongkan, dan merangkum peristiwa keuangan dengan cepat dan memberikan interpretasi terhadapnya. Sofyan Harahap (2005) Proses mengidentifikasi, mengukur, dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Sunyanto (1999) Tahapan proses pengumpulan, pengidentifikasian, pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian transaksi keuangan serta penafsiran hasilnya untuk pengambilan keputusan. Paul Grady Tubuh ilmu pengetahuan dan fungsi organisasi secara sistematis dalam mencatat, mengklasifikasikan, memproses, membuat ikhtisar, menganalisa, dan menginterpretasi semua transaksi dan kejadian keuangan. Wilopo (2005) Proses mengidentifikasikan, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi untuk penilaian dan pengambilan keputusan. Winarno (2006) Proses pencatatan transaksi keuangan dan pengolahan data transaksi untuk menyajikan informasi kepada pihak berkepentingan. Bastian dan Suharjono (2006) Seni mencatat, menggolongkan, dan merangkum transaksi serta peristiwa keuangan secara bermakna dan dalam satuan uang. Sophar Lumbantoruan Alat bahasa bisnis yang hanya dapat dipahami jika mekanismenya telah dimengerti. Zaki Baridwan (2000) Aktivitas jasa yang memberikan data kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, dari usaha ekonomi untuk pengambilan keputusan ekonomi dalam situasi tertentu. Fungsi Akuntansi Secara Umum Fungsi utama akuntansi adalah menyediakan informasi yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukan oleh suatu entitas. Informasi ini juga berperan penting dalam menyusun kegiatan perusahaan yang nantinya akan dianalisis oleh manajemen untuk pengambilan keputusan internal dan juga untuk keputusan pihak eksternal seperti investor dan kreditur. Beberapa fungsi akuntansi bagi perusahaan meliputi: Sebagai pengontrol keuangan di dalam perusahaan, memberikan pemahaman tentang pengelolaan dana, laba yang diperoleh, dan kemungkinan kerugian dari aktivitas ekonomi. Sebagai alat evaluasi perusahaan melalui laporan yang menggambarkan kondisi keuangan perusahaan, memungkinkan manajemen mengevaluasi bisnis yang dijalankan dan mengidentifikasi masalah keuangan. Berperan penting dalam perencanaan perusahaan di masa yang akan datang setelah mengevaluasi laporan akuntansi keuangan. Memberikan informasi penting untuk pengambilan keputusan, pengawasan, dan implementasi keputusan perusahaan. Fungsi Akuntansi pada Bisnis atau Usaha Akuntansi adalah bidang yang sangat penting dalam menjalankan bisnis atau usaha. Dalam bagian ini, akan dijelaskan lebih lanjut mengenai fungsi akuntansi pada bisnis atau usaha. Mencatat Transaksi Keuangan Fungsi pertama akuntansi dalam bisnis adalah mencatat transaksi keuangan perusahaan. Ini mencakup segala transaksi terkait bisnis seperti pembelian, penjualan, pengeluaran, dan penerimaan uang. Data transaksi harus dicatat dengan akurat dan terperinci agar informasi keuangan yang dihasilkan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis yang tepat. Pencatatan transaksi keuangan dapat dilakukan melalui metode seperti jurnal dan buku besar. Jurnal digunakan untuk mencatat transaksi secara kronologis, sedangkan buku besar mengorganisir data transaksi ke dalam beberapa kategori, seperti aset, kewajiban, dan ekuitas. Pengolahan Data Keuangan Setelah transaksi keuangan dicatat, data tersebut harus diolah dan dikelompokkan dalam sistem akuntansi yang baik. Pengolahan data keuangan melibatkan proses merangkum dan menyesuaikan data keuangan. Proses merangkum membagi data keuangan ke dalam kategori seperti aset, kewajiban, dan ekuitas, dan melibatkan pembuatan laporan keuangan yang merangkum posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas. Penyesuaian data dilakukan untuk mengkoreksi dan menyesuaikan data keuangan dengan kondisi aktual perusahaan. Proses ini penting untuk memastikan informasi keuangan yang dihasilkan akurat dan representatif. Menyajikan Laporan Keuangan Fungsi akuntansi selanjutnya adalah menyajikan laporan keuangan yang berguna bagi pengambilan keputusan bisnis. Laporan keuangan yang umum digunakan meliputi laporan laba rugi, neraca, dan arus kas. Laporan laba rugi menunjukkan pendapatan dan biaya perusahaan dalam periode tertentu. Neraca menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada akhir periode tertentu. Laporan arus kas menunjukkan arus masuk dan keluar uang dari perusahaan dalam periode tertentu. Laporan keuangan membantu manajemen memahami kinerja keuangan perusahaan dan mengambil keputusan bisnis yang tepat. Analisis Keuangan Fungsi akuntansi selanjutnya adalah analisis keuangan. Proses analisis keuangan melibatkan perbandingan data keuangan dari periode yang berbeda dan dari perusahaan sejenis untuk menentukan kinerja keuangan perusahaan dan mengidentifikasi tren dan masalah bisnis. Dengan analisis keuangan, perusahaan dapat menentukan kekuatan dan kelemahan mereka dalam bisnis, serta mengambil tindakan untuk memperbaiki

Accounting adalah: Pengertian, Fungsi dan Tujuan Akuntansi Read More »

Account Receivable adalah_ Pengertian, Ciri-ciri dan Contohnya

Account Receivable adalah: Pengertian, Ciri-ciri dan Contohnya

LaBalance.id – Account Receivable adalah sebuah frasa yang melintasi dunia akuntansi dan bisnis, mengemuka sebagai elemen yang krusial dalam menjamin kelancaran cash flow atau aliran kas. Tapi, apa sebenarnya yang disembunyikan di balik istilah yang sering diucapkan ini? Pengertian Account Receivable Account Receivable atau yang kerap disebut piutang usaha, tidak hanya sekadar catatan transaksi. Account Receivable adalah bagaimana sebuah perusahaan menjalankan proses penagihan kepada pihak terutang, entah itu konsumen atau klien. Secara umum, sumber Account Receivable terbagi menjadi dua jenis, Trade Receivable dan Non-trade Receivable. Trade Receivable, atau piutang dagang, adalah tagihan yang timbul dari penyediaan barang dan jasa kepada pihak lain. Di sisi lain, Non-trade Receivable adalah tagihan yang muncul dari transaksi yang bukan merupakan inti dari operasional perusahaan. Mengurai Ciri-ciri Account Receivable Nilai Jatuh Tempo Berbicara tentang nilai jatuh tempo Account Receivable, kita menyelami kedalaman transaksi utama yang ditambah dengan bunga. Bunga ini muncul ketika pembayaran transaksi kredit sudah melewati batas waktu tertentu. Bagi pihak piutang, bunga menjadi imbalan atas kelonggaran waktu pelunasan yang diberikan. Tanggal Jatuh Tempo Tanggal jatuh tempo adalah puncak saat piutang berhak menagih pembayaran yang seharusnya dibayarkan oleh konsumen. Keterlambatan membayar atau ketidaksesuaian dengan tanggal jatuh tempo bisa berujung pada pemberian denda oleh pihak piutang atau perusahaan. Umur Jatuh Tempo Umur jatuh tempo hadir dalam dua wujud, harian dan bulanan. Dalam konteks harian, waktu pembayaran ditetapkan dalam hitungan hari. Sementara dalam format bulanan, tanggal jatuh tempo biasanya diselaraskan dengan awal transaksi setiap bulannya. Strategi Perolehan Account Receivable Menetapkan Standar Prosedur Perusahaan dapat membangun fondasi solid dengan merumuskan standar prosedur yang jelas untuk mengumpulkan Account Receivable. Ini melibatkan aspek waktu penagihan, skrip panggilan telepon, dan prosedur lainnya yang dapat memberikan kelancaran operasional. Melatih Karyawan Kunci keberhasilan terletak pada kesiapan karyawan dalam menghadapi berbagai karakter konsumen. Pelatihan menjadi faktor krusial untuk memastikan bahwa tim penagihan dapat berinteraksi dengan efektif, terlepas dari respons konsumen yang beragam. Meninjau Laporan Peninjauan laporan menjadi alat bermanfaat untuk memahami pola pembayaran konsumen. Dari sini, perusahaan dapat mengidentifikasi apakah konsumen membayar dengan benar atau memerlukan penagihan lebih lanjut. Mengubah Waktu Jatuh Tempo Dalam menghadapi kendala pembayaran, perusahaan memiliki opsi untuk menyesuaikan waktu jatuh tempo. Langkah ini dapat diambil sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau kondisi khusus konsumen. Menyewa Jasa Agen Penagihan Untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan Account Receivable, perusahaan dapat mempertimbangkan opsi menyewa jasa agen penagihan. Agen ini memiliki keahlian khusus dalam menangani situasi penagihan. Contoh Piutang Usaha Contoh konkret dari Account Receivable terlihat ketika sebuah perusahaan melakukan penagihan kepada konsumennya. Sebagai contoh, PLN dan PAM yang rutin melakukan penagihan di awal bulan untuk pemakaian listrik dan air pada bulan sebelumnya. Jenis Account Receivable lain dapat ditemukan dalam layanan pascabayar dan sistem pembayaran kredit. Bagi perusahaan, Account Receivable memegang peran krusial dalam mencegah potensi kerugian bisnis. Sejumlah konsumen yang menunggak pembayaran dapat membawa dampak serius pada aliran kas, yang pada gilirannya, berpotensi menimbulkan kerugian. Account Receivable berfungsi sebagai pemantau keterlambatan pembayaran, dan melalui perhitungan rasio perputaran piutang, perusahaan dapat menilai seberapa cepat atau lambat konsumen melunasi tagihan. Demikianlah paparan mendalam tentang Account Receivable dari pengertian hingga perannya yang strategis. Dalam manajemen keuangan, Account Receivable tidak boleh diabaikan.

Account Receivable adalah: Pengertian, Ciri-ciri dan Contohnya Read More »

Aanwijzing adalah_ Pemahaman Istilah dalam Proses Tender

Aanwijzing adalah: Pemahaman Istilah dalam Proses Tender

LaBalance.id – Mari kita eksplorasi istilah baru yang mungkin terdengar asing: aanwijzing. Meskipun tidak berasal dari bahasa Indonesia atau Inggris, aanwijzing adalah kata umum dalam kegiatan lelang. Pengertian Aanwijzing Aanwijzing berasal dari bahasa Belanda, dengan artinya indikasi, instruksi, rekomendasi, penugasan, anjuran, dan persiapan. Dalam tender, aanwijzing adalah pertemuan antara pemilik tender dan peserta lelang untuk memperjelas dokumen pengadaan. Tahap Aanwijzing Persiapan Dokumen Penawaran Peserta harus menyiapkan dan mengunggah dokumen penawaran dalam e-procurement sesuai batas waktu yang ditentukan. Seleksi Poin Unggulan dan Kekurangan Proses seleksi akan menilai poin unggulan dan kekurangan pada setiap peserta, karena pada akhirnya, hanya ada satu pemenang. Hal-Hal yang Disepakati dalam Aanwijzing Lingkup Pekerjaan Peserta harus memahami ruang lingkup pekerjaan yang diikuti di dalam lelang, memudahkan evaluasi kemampuan peserta. Metode Pemilihan Penentuan cara yang dipilih oleh peserta lelang, biasanya setelah diskusi antara anggota panitia hingga pejabat PPK. Penyampaian Dokumen Penawaran Jelaskan tanggal dan batas waktu unggah dokumen, hindari keterlambatan yang dapat mengakibatkan diskualifikasi. Kelengkapan Dokumen Terlampir Pastikan semua dokumen persyaratan diunggah lengkap, menjadi barometer bahwa peserta memenuhi syarat. Materi Aanwijzing Materi penjelasan oleh panitia lelang mencakup: Lingkup pekerjaan Metode pemilihan Persyaratan dan tata cara penyampaian dokumen Administrasi dan teknis Anggaran biaya Kerangka acuan kerja Kelengkapan yang harus dilampirkan Jadwal batas akhir pemasukan dokumen Tata cara pembukaan dokumen Metode evaluasi Hal-hal lain yang relevan Pentingkah Aanwijzing? Aanwijzing adalah proses krusial yang wajib diikuti peserta tender. Absennya peserta dapat menyebabkan kesulitan memahami proyek secara rinci dan berpotensi diskualifikasi. Aanwijzing menjadi sub-proses vital dalam procurement. Tujuannya adalah mendiskusikan ruang lingkup paket pengadaan, persyaratan, dan ketetapan. Bagi peserta tender, kehadiran di aanwijzing sangat penting untuk memahami proyek secara detail. Contoh Aanwijzing Ilustrasi tentang contoh proses aanwijzing memberikan gambaran bagaimana peserta yang mengabaikan kegiatan ini dapat terdiskualifikasi. Mari kita telaah suatu kasus yang menggambarkan proses aanwijzing dalam konteks lelang. Dokumen pengadaan yang diberikan oleh panitia lelang menetapkan batas akhir pemasukan pada tanggal 18/05/2023 pukul 13:00 WIB. Pada saat aanwijzing, terjadi perubahan pada batas akhir pemasukan dokumen. Meskipun telah disepakati bersama, perubahan tersebut menetapkan hari dan tanggal yang sama (18/05/2023), namun jam pemasukan dimajukan menjadi pukul 11:00 WIB. Perusahaan A, meskipun telah memenuhi syarat Dokumen Penawaran, mengabaikan kegiatan aanwijzing. Mereka juga tidak memperhatikan berita acara aanwijzing yang telah dikirimkan oleh panitia lelang. Terungkap bahwa perusahaan A masih mengacu pada dokumen lelang yang belum diperbarui oleh berita acara penjelasan (aanwijzing). Akibatnya, mereka memasukkan dokumen penawaran menjelang pukul 13:00 WIB. Dengan otomatis, dokumen penawaran perusahaan A ditolak karena pengiriman dokumen dan data telah melewati batas waktu yang ditentukan dalam berita acara aanwijzing terbaru, yaitu pukul 11:00 WIB. Akibatnya, perusahaan A dianggap gugur dalam proses tender proyek tersebut. Mengacu pada ilustrasi sederhana ini, peserta tender seharusnya tidak mengabaikan kegiatan aanwijzing. Kesalahan sepele seperti ini dapat menyebabkan kerugian fatal dalam proses tender. Adalah suatu keharusan bagi pihak yang hendak mengikuti tender untuk memberikan perhatian sepenuhnya pada setiap tahapan, termasuk aanwijzing, guna menghindari kendala yang dapat merugikan. Kesimpulan Aanwijzing adalah langkah awal dalam proses lelang atau procurement. Peserta harus memahami dan mematuhi setiap tahap aanwijzing agar memiliki peluang menang lebih besar.

Aanwijzing adalah: Pemahaman Istilah dalam Proses Tender Read More »

7 Waste Dalam Industri Manufaktur dan Contohnya

7 Waste Dalam Industri Manufaktur dan Contohnya

LaBalance.id – Persaingan bisnis saat ini memaksa perusahaan manufaktur untuk terus meningkatkan hasil produksi dari segi kualitas, harga, jumlah produksi, dan kepuasan konsumen. Dalam konteks ini, Lean Manufacturing berperan sebagai strategi perbaikan berkelanjutan dalam proses operasional perusahaan manufaktur, khususnya dalam pengendalian limbah lini produksi. Tingginya tingkat waste dapat menghambat aliran nilai, mengakibatkan ketidakefisienan waktu produksi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meminimalisir sampah, mengurangi pemborosan dari bahan baku, gerakan, lalu lintas bahan baku, proses menunggu, pengerjaan ulang, hingga proses perbaikan. Berikut adalah 7 waste dalam industri manufaktur yang perlu diperhatikan oleh manajemen operasional perusahaan dan contohnya. 7 Waste Dalam Industri Manufaktur dan Contohnya 1. Waste of Transportation (Transportasi) Pemborosan karena tata letak produksi yang buruk, memerlukan pemindahan barang yang tidak efisien. Kesalahan dalam penataan tata letak dapat menghambat efektivitas produksi dan menghasilkan output yang tidak maksimal. 2. Waste of Inventory (Persediaan) Akumulasi barang jadi, barang setengah jadi, dan bahan mentah yang berlebihan dapat mengakibatkan pemborosan inventaris, menandakan kemungkinan overproduksi dan penurunan kinerja penjualan perusahaan. 3. Waste of Motion (Gerak) Pemborosan terjadi karena gerakan pekerja atau mesin yang tidak memberikan nilai tambah pada produk. Penempatan komponen yang jauh dari jangkauan operator dapat mengakibatkan gerakan yang tidak perlu. 4. Waste of Waiting (Menunggu) Keadaan menunggu dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan proses, kerusakan mesin, pasokan komponen yang terlambat, atau keputusan yang tertunda. Pengukuran waktu produksi perlu dilakukan untuk mengidentifikasi proses-proses yang berpotensi menimbulkan menunggu. 5. Waste of Overprocessing (Proses Berlebihan) Tidak semua proses memberikan nilai tambah bagi produk atau pelanggan. Proses yang tidak memberikan nilai tambah merupakan pemborosan. Penting untuk mencari akar penyebab permasalahan dan mengambil tindakan yang sesuai. 6. Waste of Overproduction (Produksi Berlebih/Overproduksi) Kelebihan produksi barang jadi atau barang setengah jadi tanpa pesanan dari pelanggan dapat terjadi akibat waktu setup mesin yang lama, kualitas rendah, atau kurangnya perencanaan produksi yang akurat. Hal ini berpotensi membahayakan perusahaan, terutama yang menghasilkan produk konsumsi dengan masa kedaluwarsa pendek. 7. Waste Defects (Cacat/Kerusakan) Pemborosan terjadi akibat kualitas rendah atau kerusakan produk, memerlukan biaya tambahan untuk perbaikan. Perusahaan manufaktur umumnya menerapkan prinsip “zero cacat” untuk meminimalkan pemborosan ini. Pemborosan ini disingkat dalam bahasa Inggris sebagai “TIMWOOD,” yang melibatkan Transportation, Inventory, Motion, Waiting, Overprocessing, Overproduction, dan Defective.

7 Waste Dalam Industri Manufaktur dan Contohnya Read More »

Cara Menghitung Bunga Pinjaman Bank

Cara Menghitung Bunga Pinjaman Bank, Cepat dan Efektif!

LaBalance.id – Pada saat mengajukan pinjaman ke bank, langkah pertama yang perlu dipahami adalah cara menghitung bunga pinjaman. Meski terdengar sederhana, pemahaman yang mendalam mengenai cara menghitung bunga pinjaman bank dapat mencegah terjebak dalam hutang yang tak terkendali. Rumus dan Cara Menghitung Bunga Pinjaman   Memahami Dasar-dasarnya Secara umum, terdapat beberapa rumus sederhana untuk menghitung bunga per bulan Bunga Datar Bunga per Bulan = (Pokok Pinjaman x Suku Bunga x Jumlah Tahun Kredit) / Jumlah Bulan Bunga Efektif Bunga = Saldo Pokok x Suku Bunga / 12 Bunga Anuitas Bunga = Saldo Pokok x Suku Bunga / 12 Namun, perhitungan yang kompleks mungkin sulit untuk dipahami. Untuk itu, perlu dilakukan simulasi dengan mengacu pada rumus-rumus tersebut. Contoh Perhitungan Berbagai Jenis Bunga Pinjaman Bunga Datar Contoh Pinjaman 20 juta dengan bunga 10% per tahun. Jumlah Bunga 20.000.000 x 10% x 1 tahun = 2.000.000 Jumlah Bayar 20.000.000 + 2.000.000 = 22.000.000 Angsuran per Bulan 22.000.000 / 12 = 1.833.333 Contoh lain Pinjaman 20 juta dengan bunga 10% per tahun, lunas dalam 6 bulan. Jumlah Bunga 0,5 tahun x 10% x 20.000.000 = 1.000.000 Jumlah Bayar 20.000.000 + 1.000.000 = 21.000.000 Angsuran per Bulan 21.000.000 / 6 = 3.500.000 Bunga Efektif Contoh simulasi: Pokok Pinjaman Rp250 juta Tenor 15 tahun (180 bulan) Suku Bunga 10% per tahun Bunga Bulan Pertama (250.000.000 – 0) x 10% / 12 = 2.083.333 Bunga Bulan Kedua (250.000.000 – 1.388.888) x 10% / 12 = 2.071.759 Bunga Bulan Ketiga (250.000.000 – 1.388.888 – 1.388.888) x 10% / 12 = 2.060.185 Angsuran Bulan Pertama 1.388.888 + 2.083.333 = 3.472.221 Angsuran Bulan Kedua 1.388.888 + 2.071.759 = 3.460.647 Angsuran Bulan Ketiga 1.388.888 + 2.060.185 = 3.449.073 Bunga Anuitas Contoh simulasi: Pokok Pinjaman Rp250 juta Tenor 15 tahun (180 bulan) Suku Bunga 10% per tahun Cicilan Pokok 250.000.000 / 180 bulan = 1.388.888 per bulan Bunga 250.000.000 x 10% /12 = 2.083.333 per bulan Angsuran per Bulan 2.083.333 + 1.388.888 = 3.472.221 per bulan Ketahui Lebih Mendalam tentang Bunga Pinjaman Bunga pinjaman bukan sekadar beban, tetapi juga merupakan suatu bentuk ketidakseimbangan bagi pihak yang meminjamkan uang. Dalam industri perbankan, terdapat beberapa jenis bunga pinjaman dengan karakteristik berbeda Bunga Datar Jenis bunga ini tetap sepanjang periode pinjaman, seperti pada kredit kendaraan bermotor (KKB). Contoh perhitungan Pinjaman 20 juta dengan bunga 10% per tahun, membayar dalam setahun. Bunga Mengambang Suku bunga mengikuti perubahan di pasar keuangan. Contoh Penerapan KPR setelah masa suku bunga tetap berakhir. Bunga Efektif Diitung berdasarkan sisa pokok pinjaman, menguntungkan nasabah karena semakin kecil utangnya, semakin kecil pula bunga yang dibiayai. Contoh Simulasi Pokok pinjaman 250 juta, tenor 15 tahun, suku bunga 10% per tahun. Bunga Anuitas Jumlah angsuran pokok dan bunga setiap bulannya tetap. Contoh Kasus KPR dengan cicilan bulanan yang tetap. Pemahaman mendalam mengenai jenis-jenis bunga ini dapat membantu Anda membuat keputusan finansial yang lebih bijak dan mengelola pinjaman dengan lebih efektif.

Cara Menghitung Bunga Pinjaman Bank, Cepat dan Efektif! Read More »

Apa itu 5C dalam Pengajuan Kredit

5C Kredit Apa Saja? Pengertian dan Berikut 5 Prinsipnya!

LaBalance.id – Pilihan kredit tanpa agunan merupakan sarana finansial yang beragam, mampu memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari usaha hingga pendidikan, bahkan kredit perumahan. Meski demikian, penting untuk menyadari bahwa setiap persetujuan kredit dari pihak bank didasarkan pada prinsip 5C kredit. Prinsip 5C menjadi landasan utama dalam menentukan kelulusan suatu kredit. Bagi Anda yang ingin mengajukan kredit, pemahaman mendalam terkait hal ini menjadi krusial. Jangan khawatir, pada kesempatan ini, kami akan membahas secara lengkap dan menyeluruh mengenai prinsip 5C. Simak informasi berikut ini! Menyingkap Prinsip 5C Kredit dengan Lebih Jelas Bank tidak sembarangan menyetujui setiap permohonan kredit. Sebelum mengambil keputusan, bank memiliki kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh calon debitur. Prinsip 5C menjadi instrumen penting untuk menilai apakah pihak yang mengajukan kredit memiliki kapabilitas yang memadai. Prinsip 5C kredit terdiri dari lima poin kunci, yaitu character, capacity, capital, collateral, dan condition. Melalui analisis terhadap poin kelima ini, bank akan menentukan apakah seseorang layak mendapatkan persetujuan kredit. Selain prinsip 5C, yang memiliki relevansi yang sama dalam menilai kelayakan seorang calon debitur. Agar permohonan kredit Anda mendapat persetujuan, Anda perlu memenuhi kriteria yang terkandung dalam prinsip-prinsip tersebut. Kriteria ini tidak hanya diciptakan untuk melindungi pihak bank, tetapi juga untuk memberikan perlindungan kepada nasabah agar Anda mengetahui batas kemampuan kredit yang sesuai. Ketidakpenuhan kriteria berarti bahwa nasabah belum siap untuk melunasi kredit yang dimilikinya. Ini menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko seperti pembayaran kredit yang macet atau gagal. Setelah memahami dua jenis prinsip yang diterapkan oleh pihak bank, langkah selanjutnya adalah memahami pemahaman mendalam sebelum mengajukan kredit tanpa agunan. Hal ini memungkinkan Anda untuk mempersiapkan diri dengan kriteria yang harus dipenuhi sebagai pihak yang mengajukan kredit. Prinsip 5C Kredit yang Perlu Diketahui! Prinsip 5C menjadi titik fokus utama dalam memancarkan kemampuan seorang nasabah dalam menerima kredit yang diberikan. Prinsip ini tidak hanya memperhitungkan kemampuan ekonomi, tetapi juga melibatkan kepribadian dan latar belakang dari pihak yang mengajukan kredit. Untuk memahami lebih lanjut, mari kita telah secara rinci setiap poin yang terkandung dalam prinsip 5C. Penjelasan ini menjadi kunci persiapan sebelum Anda mengajukan kredit. Simak dengan penjelasan mendalam untuk setiap poin berikut: 1. Kapasitas (Capacity) Merupakan kemampuan seorang debitur untuk melunasi kredit yang dimilikinya. Kriteria ini bergantung pada dua faktor, yakni pendapatan dan kondisi usaha atau perusahaan yang dimiliki. Bank melakukan evaluasi terhadap kemampuan debitur untuk membayar kredit berdasarkan kemampuan Anda dalam menjalankan bisnis dan menghasilkan keuntungan. Semakin besar sumber pendapatan, semakin besar pula kemampuan untuk melunasi kredit. Jika usaha yang dijalankan mengalami masalah keuangan, pemberi kredit dapat menolak permohonan kredit. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko kredit yang sering muncul. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengajukan kredit sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Meminjam melebihi kemampuan membayar dapat membawa konsekuensi yang berat di masa mendatang. 2. Agunan (Collateral) Merupakan jaminan yang diserahkan kepada pihak bank. Konsep jaminan ini tidak asing lagi. Jaminan menjadi penentu apakah suatu kredit akan disetujui atau ditolak. Jaminan berfungsi sebagai perlindungan bagi bank apabila nasabah tidak dapat melunasi kreditnya. Jika kredit tidak dapat rusak, aset yang dijadikan jaminan akan disita dan menjadi milik bank. 3. Karakter (Character) Karakter menjadi kriteria awal yang dinilai oleh pihak bank. Melalui wawancara, bank menilai sikap dan latar belakang calon debitur. Hal ini penting untuk menilai keseriusan dalam mengajukan kredit. Beberapa faktor yang dapat menghasilkan proses persetujuan antara lain adanya catatan kriminal, sikap yang kurang baik, dan riwayat kredit yang buruk. 4. Modal (Capital) Capital khususnya relevan bagi nasabah yang mengajukan kredit usaha. Bank perlu mengetahui seberapa besar modal yang dimiliki sebelum memberikan persetujuan. Bank melihat catatan keuangan dari bisnis yang dijalankan untuk menentukan apakah nasabah layak menerima persetujuan atau tidak. 5. Kondisi (Condition) mencakup kondisi ekonomi dari pihak yang mengajukan kredit. Kondisi ekonomi ini menjadi pertimbangan apakah seseorang mampu membayar kredit yang diberikan oleh bank. Kondisi ekonomi atau usaha yang tidak stabil dapat menjadi alasan untuk menolak persetujuan kredit. Demikianlah diketahui prinsip 5C yang penting untuk sebelum mengajukan kredit. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda memenuhi prinsip kelima di atas? Perlu diingat, bank akan menilai dan menganalisis kemampuan nasabah dengan cermat dan bijak. Pastikan bahwa Anda memiliki kemampuan yang sesuai

5C Kredit Apa Saja? Pengertian dan Berikut 5 Prinsipnya! Read More »

4 Opini Audit Dalam Laporan Keuangan

4 Opini Audit Laporan Keuangan Menurut UU No 15 Tahun 2004

LaBalance.id – Untuk menjalankan kewajiban pertanggungjawaban terhadap pemangku kepentingan, laporan keuangan suatu perusahaan memerlukan sentuhan magis seorang akuntan publik atau auditor. Bagi perusahaan yang go public, pemeriksaan laporan keuangan bukanlah sekadar kebijakan, melainkan keharusan yang tak terelakkan. Auditor menghasilkan 4 opini audit, pandangan tajam terhadap laporan keuangan yang telah diselidiki. 4 opini audit, inilah yang membuka tirai kebenaran, mengungkap apakah laporan keuangan itu sendiri adil atau malah bengkok. 4 Opini Audit Dalam Laporan Keuangan Menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 mengenai Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara membagi opini atas laporan keuangan menjadi empat jenis yaitu: Wajar Tanpa Pengecualian (WTP atau Unqualified Opinion) Opini WTP dengan tegas menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan secara adil dalam semua aspek material: realisasi anggaran, perubahan saldo anggaran lebih, posisi keuangan, arus kas operasional, dan perubahan ekuitas. Semuanya ditata sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (SAP). Ketentuan mencapai Opini WTP mengandung syarat tinggi, termasuk ketersediaan bukti audit yang memadai, kepatuhan pada standar lapangan, dan kelengkapan presentasi seluruh laporan keuangan. Wajar Dengan Pengecualian (WDP atau Qualified Opinion) Opini WDP mengakui kewajaran laporan keuangan, kecuali pada aspek tertentu yang dikecualikan. Auditor menyimpulkan adanya penyimpangan atau keterbatasan bukti yang memadai terhadap aspek tertentu, namun bukan bersifat merata (pervasive) dalam laporan. Tidak Wajar (TW atau Adverse Opinion) Opini TW muncul ketika auditor, setelah menyelidiki dengan bukti audit yang memadai, menyatakan bahwa penyimpangan dari prinsip akuntansi sangat material dan merata dalam laporan keuangan. Tidak Memberikan Pendapat (TMP atau Disclaimer Opinion) Opini TMP terjadi jika auditor menghadapi pembatasan luar biasa, membuatnya tak mampu memperoleh bukti yang cukup. Dalam kondisi ekstrim, auditor menyimpulkan ketidakmungkinan memberikan opini atas laporan keuangan karena adanya ketidakpastian yang kompleks dan potensi dampak kumulatif. Mengevaluasi laporan keuangan bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi investasi strategis yang dapat memberikan dampak positif yang signifikan pada kesehatan bisnis Anda. Audit laporan keuangan bukan hanya sebatas penilaian, melainkan sebuah langkah proaktif yang mampu membentuk citra perusahaan Anda di mata para pemangku kepentingan. Manfaat Opini Audit Laporan Keuangan Meningkatkan Kredibilitas Perusahaan Audit membawa kepercayaan. Dengan melibatkan pihak eksternal yang kompeten, perusahaan Anda memberikan jaminan kualitas terhadap laporan keuangan. Ini memperkuat posisi perusahaan sebagai entitas yang dapat dipercaya dalam lingkup bisnisnya. Meningkatkan Transparansi Transparansi adalah kunci untuk membangun hubungan yang kuat dengan para pemangku kepentingan. Audit membuka pintu menuju informasi yang jelas dan terverifikasi, memastikan bahwa segala aktivitas keuangan tercermin dengan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Efisiensi Operasional Proses audit memerlukan pemahaman mendalam terhadap pencatatan dan penyajian laporan keuangan. Dengan mengidentifikasi potensi perbaikan dan menghilangkan redundansi, perusahaan dapat mencapai efisiensi operasional yang lebih baik. Pentingnya Proses Pencatatan dan Penyajian Untuk memastikan keberhasilan audit, perusahaan harus memberikan perhatian khusus pada proses pencatatan dan penyajian laporan keuangan. Penerapan prinsip akuntansi yang diakui secara umum menjadi dasar yang tidak dapat diabaikan. Langkah-langkah untuk memastikan audit yang optimal melibatkan Akuntabilitas Penuh Setiap transaksi harus dicatat dengan akurat dan tepat waktu, memberikan gambaran yang akurat tentang kinerja keuangan perusahaan. Kepatuhan Akuntansi Memastikan bahwa semua kegiatan pencatatan mengikuti standar akuntansi yang berlaku umum, menciptakan landasan yang kokoh untuk audit yang sukses. Ketelitian dan Konsistensi Detail dan konsistensi dalam penyajian laporan keuangan adalah kunci. Setiap angka harus terkait erat dengan kejadian sebenarnya dan konsisten dari waktu ke waktu. Kesimpulan Melibatkan profesional audit yang terampil dan independen akan memastikan bahwa setiap langkah dalam proses ini dijalankan dengan optimal. Dengan begitu, perusahaan Anda tidak hanya meraih hasil audit yang memuaskan, tetapi juga mewujudkan fondasi keuangan yang kuat dan andal untuk masa depan. Dalam dunia ketat pertanggungjawaban korporat, opini auditor menjadi sorotan tajam yang mengungkap kebenaran di balik angka-angka finansial.

4 Opini Audit Laporan Keuangan Menurut UU No 15 Tahun 2004 Read More »

4 Kuadran Aliran Kas The Cashflow Quadrant Robert Kiyoshi

4 Kuadran Aliran Kas: The Cashflow Quadrant Robert Kiyoshi

LaBalance.id – 4 Kuadran aliran kas, mungkin sejauh ini terdengar asing di telinga Anda. Akan tetapi, bagi mayoritas pelaku bisnis atau pengusaha, istilah ini tidaklah asing. Aliran kas quadrant dianggap sebagai pilar utama yang mendukung sukses dalam mengelola keuangan personal. Pengertian Kuadran Aliran Kas Pendekatan aliran kas quadrant diperkenalkan oleh penulis dan investor ulung, Robert T Kiyosaki. Pendekatan ini sangat diminati karena mampu mengungkapkan sumber pendapatan seseorang secara detil. Ia melukiskan profesi dan keuangan yang merefleksikan realitas di tengah-tengah masyarakat. 4 Kuadran Aliran Kas E-S-B-I Terdapat empat variasi kuadran aliran kas yang terbentuk dari sumber pendapatan. Masing-masing 4 kuadran adalah E, S, B, dan I. Keempatnya mempunyai pendekatan unik dalam mengatur keuangan, mengelola utang, dan merawat aset. 1. Kuadran E (Employee) Kuadran E merangkum individu-individu yang berperan sebagai karyawan. Mereka meraih pendapatan tetap melalui gaji bulanan dari perusahaan atau bisnis yang bukan milik mereka. Tingkatannya bervariasi, mulai dari sekuriti hingga direktur utama suatu perusahaan. Orang-orang di kuadran E lebih cenderung mengejar kepastian dan jaminan dalam pekerjaan. Pandangan mereka sering kali terfokus pada pekerjaan yang aman dengan sejumlah tunjangan dari perusahaan. Dengan jenjang karir yang jelas, mereka berharap mencapai taraf hidup yang lebih baik. 2. Kuadran S (Self-Employee) Individu di kuadran S memiliki atau menjalankan bisnis sendiri seperti arsitek, freelancer, pemilik restoran, atau pemilik toko material. Pendapatan mereka tergantung pada usaha keras dan dedikasi, tidak terikat oleh aturan kerja orang lain. Mereka cenderung menunda kenyamanan dan memiliki inisiatif tinggi. Semakin besar usaha dan waktu yang mereka curahkan, semakin besar pula pendapatan yang mereka raih. Pekerja lepas atau karyawan dengan pendapatan berbasis komisi, seperti tenaga penjualan, juga masuk ke dalam kuadran ini. Pandangan mereka di kuadran S mencerminkan kemauan untuk bekerja lebih keras, menunda kenyamanan, memiliki inisiatif tinggi, dan terus meningkatkan diri. Mereka menyadari bahwa pengalaman dan reputasi memegang peranan kunci di kuadran ini. 3. Kuadran B (Business) Kuadran B, bagi pemilik bisnis, adalah individu yang mendapat pendapatan tanpa terlibat langsung dalam operasional perusahaan mereka. Ini adalah perbedaan utama antara kuadran B dan S. Mereka merupakan pengusaha besar yang menjalankan bisnis mereka dengan bantuan individu di kuadran E. Mereka di kuadran E memiliki keahlian dalam bekerja sama dan mampu mendele-gasikan tugas rumit kepada orang lain. Ini karena mereka menyadari bahwa untuk mencapai tujuan, mereka tidak bisa melakukannya sendirian. Komunikasi yang baik dan kemampuan bekerja tim menjadi kunci di kuadran ini. 4. Kuadran I (Investor) Kuadran I adalah tahap tertinggi dalam aliran kas. Investor berada dalam kondisi finansial dan waktu yang bebas. Pendapatan mereka berasal dari hasil investasi yang telah mereka lakukan. Investor tidak perlu terlibat langsung dalam operasional perusahaan yang mereka investasikan. Mereka berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kuadran lainnya. Semua sifat yang dimiliki individu di kuadran B umumnya juga dimiliki oleh mereka di kuadran I. Investor memiliki lebih banyak waktu karena tidak terikat langsung pada operasional bisnis. Kesimpulan Setelah membaca keempat kuadran di atas, di manakah Anda berada saat ini? Seorang individu sebenarnya bisa saja berada dalam dua kuadran sekaligus. Misalnya, sebagai seorang karyawan yang memiliki aset atau investasi yang memberikan keuntungan, Anda juga dapat berada di kuadran investor. Dengan memahami jenis kuadran aliran kas, diharapkan Anda dapat menggali kebijaksanaan dan pola pikir yang dimiliki oleh individu di setiap kuadran. Menurut kami, tidak semua orang bisa dipaksa untuk menjadi pengusaha, sebab harus ada yang bekerja. Demikian juga, tidak semua orang dapat bekerja, karena harus ada yang mengambil langkah menjadi pebisnis untuk membuka lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, lakukan pekerjaan Anda dengan sebaik-baiknya dan pahami pandangan serta kepentingan individu di kuadran lain. Tujuannya adalah agar Anda dapat bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas Anda di masa mendatang.

4 Kuadran Aliran Kas: The Cashflow Quadrant Robert Kiyoshi Read More »

Formulir 1721 A1 adalah_ Semua yang Perlu Anda Ketahui

Formulir 1721 A1 adalah: Semua yang Perlu Anda Ketahui

Apa itu Formulir 1721 AI? LaBalance.id – Formulir 1721 A1 adalah tandatangan pemotongan pajak yang diterapkan pada wajib pajak perseorangan berstatus sebagai karyawan atau pensiunan. Dokumen ini wajib dikeluarkan oleh pemotong pajak atau bendahara instansi terkait, dan berfungsi sebagai dasar pelaporan SPT Tahunan bagi individu yang menerima penghasilan. Pada dasarnya, formulir potong bagi karyawan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu formulir 1721 A1 dan formulir 1721 A2. Perbedaannya terletak pada penerima formulir tersebut; formulir 1721 A1 diserahkan kepada karyawan dengan kriteria tertentu, sedangkan formulir 1721 A2 diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS), Anggota TNI, Anggota Polri, dan/atau pensiunan. Fungsi Formulir 1721 A1 Bukti potong atau formulir 1721 A1 dan 1721 A2 adalah dokumen berharga bagi setiap wajib pajak. Formulir 1721 A1 memiliki fungsi sebagai kredit pajak dan juga dapat digunakan untuk memantau potongan pajak yang telah dibayarkan oleh pemberi kerja. Umumnya, bukti potong formulir 1721 A1 dilampirkan saat wajib pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh. Hal ini bertujuan untuk melakukan pengecekan terhadap keabsahan potongan pajak yang telah dibayarkan. Jika seorang pekerja tidak menerima bukti potong dari pemberi kerja, dia berhak untuk meminta langsung kepada bagian keuangan perusahaan yang menaunginya. Selain itu, jika seseorang memiliki penghasilan lain yang masuk dalam kategori kena pajak, maka dia juga berhak meminta bukti potong tersebut. Kapan Form 1721-A1 Digunakan? Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, formulir 1721 A1 harus dibuat oleh pemberi kerja dan diberikan kepada karyawan sebelum akhir periode pelaporan pajak. Contohnya, dalam periode penerimaan penghasilan Januari-Desember, formulir 1721 A1 diberikan pada akhir Desember atau paling lambat pada Januari tahun berikutnya. Begitu pula jika periode penerimaan penghasilan kurang dari 1 tahun, formulir tersebut diberikan pada akhir periode atau awal bulan berikutnya. Cara Penggunaan Form 1721-A1 Formulir 1721 A1 dapat digunakan untuk pegawai baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, dengan ketentuan tertentu. Berikut adalah ketentuan penggunaannya: Formulir 1721 A1 digunakan sebagai bukti pemotongan PPh pasal 21 bagi pegawai swasta, termasuk pegawai tetap, penerima pensiun berkala, penerima tunjangan hari tua berkala, dan penerima jaminan hari tua berkala. Dua lembar formulir 1721 A1 dibuat oleh pemotong pajak, di mana lembar pertama diberikan kepada pegawai sebagai dasar pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi, dan lembar kedua diserahkan kepada pemotong pajak. Formulir 1721 A1 tidak diwajibkan dilaporkan sebagai lampiran SPT Masa PPh pasal 21 dan/atau PPh pasal 26. Proses Pembuatan Formulir 1721-A1 Proses pembuatan formulir 1721 A1 melibatkan beberapa ketentuan sebagai berikut: Formulir 1721 A1 hanya diberikan kepada pegawai tetap, tidak diberlakukan untuk pegawai tidak tetap atau bukan pegawai. Formulir 1721 A1 berlaku sebagai bukti pemotongan PPh pasal 21 selama satu tahun pajak atau selama pegawai tetap bekerja pada pemberi pajak selama satu tahun pajak. Pegawai tetap akan menggunakan formulir 1721 A1 dalam melaporkan SPT Tahunan PPh orang pribadi. Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER – 16/PJ/2016, formulir 1721 A1 harus dibuat oleh pemberi kerja paling lama 1 bulan setelah tahun kalender berakhir. Ketentuan mengenai proses pembuatan formulir potong tidak hanya berlaku untuk formulir 1721 A1, melainkan juga untuk formulir 1721 A2. Formulir bukti pemotongan pajak formulir 1721 A1 dapat diperoleh melalui DJP Online.

Formulir 1721 A1 adalah: Semua yang Perlu Anda Ketahui Read More »

Biaya Langsung dan Tidak Langsung Beserta Contohnya

Biaya Langsung dan Tidak Langsung Beserta Contohnya

LaBalance.id – Biaya langsung dan tidak langsung, kedua-duanya merupakan komponen vital dalam pengeluaran pengusaha atau perusahaan dalam menjalankan operasional bisnisnya. Biaya langsung atau direct cost dijelaskan sebagai pengeluaran yang dapat langsung diatribusikan atau dilacak pada produk atau layanan tertentu. Dalam konteks bisnis, biaya langsung melibatkan pengeluaran perusahaan yang berkaitan secara langsung dengan kegiatan operasional, baik itu dalam produksi maupun layanan jasa. Contoh Biaya Langsung dan Tidak Langsung Beberapa contoh biaya langsung meliputi pembelian bahan baku, pembayaran gaji tenaga kerja terlibat, dan biaya overhead yang terhubung langsung dengan produksi atau layanan. Contoh Biaya Langsung Beberapa contoh spesifik biaya langsung dalam konteks bisnis mencakup: Bahan Baku: Pengeluaran untuk membeli bahan-bahan yang langsung digunakan dalam proses produksi.  Gaji Tenaga Kerja Langsung: Upah yang diberikan kepada pekerja yang terlibat secara langsung dalam produksi barang atau pemberian layanan.  Biaya Overhead Produksi: Biaya-biaya tambahan yang berkaitan langsung dengan proses produksi, seperti biaya energi, perawatan mesin, dan bahan pembersih.  Biaya Transportasi Barang: Pengeluaran yang terkait langsung dengan pengiriman produk dari produsen ke konsumen.  Pajak Produksi: Pajak yang dikenakan langsung pada produk yang dihasilkan.  Gaji Sales Representative: Pengeluaran untuk membayar gaji tenaga penjualan yang terlibat dalam menjual produk atau layanan.  Biaya Packaging: Biaya untuk merancang dan mencetak kemasan produk yang digunakan secara langsung untuk pengemasan.  Upah Tenaga Kerja Pabrik: Gaji pekerja pabrik yang terlibat dalam proses produksi.  Bahan Penolong Langsung: Bahan tambahan yang digunakan secara langsung dalam produksi, namun bukan bahan utama.  Biaya Asuransi Produk: Biaya asuransi yang terkait langsung dengan perlindungan produk selama transportasi. Biaya tidak langsung dinamakan demikian karena kompleksitasnya dalam pengukuran dan alokasi pada produk atau layanan tertentu, karena tidak memiliki keterhubungan langsung dengan produk atau layanan. Sebagai contoh perbandingan, biaya pembelian bahan baku dan ongkos kirim barang dalam produksi dianggap sebagai biaya langsung karena keterkaitannya langsung dengan kegiatan produksi. Sementara, dalam industri jasa, gaji karyawan dan ongkos perjalanan yang terkait dengan tugas karyawan adalah biaya langsung. Namun, biaya sewa gedung tidak dianggap sebagai biaya langsung, meskipun penting untuk kelangsungan usaha, karena tidak berkaitan langsung dengan produksi atau layanan. Contoh Biaya Tidak langsung Beberapa contoh biaya tidak langsung mencakup: Biaya Sewa Gedung Kantor: Biaya sewa yang tidak dapat secara langsung diatribusikan pada produk atau layanan spesifik.  Biaya Listrik Keseluruhan: Pengeluaran energi untuk seluruh fasilitas, tidak terkait langsung dengan satu produk tertentu.  Biaya Administrasi Umum: Pengeluaran untuk kegiatan administratif yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan produksi.  Biaya Pelatihan Karyawan: Pengeluaran untuk pelatihan karyawan yang mungkin mencakup berbagai departemen.  Biaya Penyusutan Peralatan Produksi: Biaya yang terjadi akibat penyusutan peralatan produksi, yang tidak langsung terkait dengan satu produk tertentu.  Biaya Penyelidikan dan Pengembangan: Pengeluaran untuk kegiatan riset yang mungkin tidak langsung terhubung dengan produk yang spesifik.  Biaya Pengadaan Peralatan Keseluruhan: Biaya pembelian dan pemeliharaan peralatan yang tidak dapat diatribusikan langsung ke setiap produk.  Biaya Kebersihan Keseluruhan Fasilitas: Biaya untuk membersihkan dan merawat seluruh fasilitas, tidak berkaitan langsung dengan produk.  Biaya Umum dan Tetap: Pengeluaran rutin yang melibatkan pengelolaan keseluruhan bisnis dan tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan produk atau layanan.  Biaya Pemasaran Umum: Biaya untuk kampanye pemasaran yang mencakup seluruh produk atau jasa perusahaan. Perbedaan Perbedaan antara biaya langsung & tidak langsung dapat dilihat dari tiga aspek utama: Definisi: Keduanya memiliki definisi yang berbeda satu sama lain. Sifat: Biaya langsung dapat berubah seiring dengan perubahan volume produksi, sementara biaya tidak langsung cenderung tetap relatif. Pengukuran: Biaya langsung dapat diukur dengan mudah dan akurat karena penggunaannya dalam kegiatan produksi jelas, sedangkan biaya tidak langsung lebih sulit diukur karena memerlukan estimasi. Demikianlah gambaran singkat mengenai contoh biaya langsung & tidak langsung dalam konteks kegiatan bisnis.

Biaya Langsung dan Tidak Langsung Beserta Contohnya Read More »